Sejumlah sekolah menengah mulai menerapkan asisten belajar berbasis kecerdasan buatan sebagai alat bantu pengajaran. Asisten digital ini dapat menjelaskan ulang materi, memberi latihan soal yang disesuaikan dengan kemampuan siswa, dan menjawab pertanyaan di luar jam pelajaran. Uji coba dilakukan pada beberapa mata pelajaran seperti matematika, bahasa, dan sains dengan pendampingan guru.
Kepala sekolah yang menjadi lokasi uji coba, Bu Rahmawati, mengatakan teknologi ini bukan pengganti guru. Guru tetap menjadi pengarah utama, sementara asisten digital membantu siswa yang butuh penjelasan tambahan tanpa merasa malu bertanya. Menurut dia, banyak siswa akhirnya lebih berani mencoba karena tahu kesalahan mereka tidak akan langsung dinilai atau ditertawakan teman sekelas.
Baca Juga: Jaringan 5G Menjangkau Lebih Banyak Kota, Tarif Jadi Sorotan
Penggunaan di kelas
Dalam praktiknya, guru menetapkan batasan penggunaan. Siswa diminta menuliskan jawaban dengan kata-kata sendiri dan menjelaskan langkah berpikirnya, bukan sekadar menyalin hasil dari asisten. Guru memeriksa riwayat percakapan untuk mengetahui bagian materi yang paling sulit dipahami, lalu menjadikannya bahan pembahasan tambahan pada pertemuan tatap muka berikutnya.
Seorang siswa kelas sebelas, Dinda, mengaku terbantu ketika mempelajari soal fisika yang rumit. Asisten memberi contoh dengan tingkat kesulitan bertahap dan menjelaskan kesalahan langkah hitungnya. Meski begitu, ia mengaku tetap perlu bertanya kepada guru untuk memastikan pemahamannya benar, karena kadang penjelasan asisten terlalu panjang atau tidak sesuai konteks yang diajarkan di kelas.
Para guru menerima pelatihan singkat agar mampu memanfaatkan alat ini secara efektif. Materi pelatihan mencakup cara menyusun perintah yang jelas, mengenali jawaban yang keliru, dan mengarahkan siswa berpikir kritis. Pihak sekolah menyadari bahwa teknologi hanyalah alat, dan kualitas hasil tetap ditentukan oleh cara manusia menggunakannya.
Kekhawatiran dan pengawasan
Sebagian orang tua khawatir siswa akan bergantung pada teknologi dan malas berpikir. Pengamat pendidikan menilai kekhawatiran itu wajar dan perlu dijawab dengan desain tugas yang menuntut penalaran orisinal. Penilaian berbasis diskusi, presentasi lisan, dan proyek dianggap lebih sulit disiasati dibandingkan tugas tertulis yang jawabannya dapat dicari dengan mudah.
Isu privasi juga menjadi perhatian. Sekolah memastikan data siswa tidak dipakai untuk kepentingan komersial dan hanya disimpan sesuai kebutuhan. Penyedia layanan diminta memenuhi standar keamanan dan bersedia diaudit. Orang tua diberi penjelasan tentang data apa saja yang dikumpulkan dan diberi kesempatan menolak partisipasi anak mereka dalam uji coba.
Pengembang layanan menyatakan telah menambahkan fitur pembatasan konten agar asisten hanya menjawab pertanyaan yang relevan dengan pelajaran. Jawaban yang bersifat penilaian atau opini diberi penanda bahwa itu bukan fakta mutlak. Fitur tersebut dirancang setelah masukan dari guru yang mengkhawatirkan penggunaan yang tidak sesuai usia dan tujuan pembelajaran di lingkungan sekolah.
Dinas pendidikan berencana menyusun pedoman penggunaan kecerdasan buatan di sekolah yang mencakup etika, privasi, dan integritas akademik. Pedoman itu akan disusun bersama guru, orang tua, dan pakar teknologi. Tujuannya memberi kepastian bagi sekolah yang ingin memanfaatkan teknologi tanpa mengorbankan nilai-nilai pendidikan dan hak siswa atas perlindungan data pribadi mereka.
Hasil uji coba akan dievaluasi pada akhir semester, termasuk dampaknya terhadap nilai, motivasi, dan kebiasaan belajar. Jika hasilnya positif, penggunaan akan diperluas ke sekolah lain dengan panduan yang lebih rinci. Dinas pendidikan menegaskan bahwa prinsip utamanya tetap sama, yaitu teknologi harus memperkuat proses belajar dan bukan menggantikan peran guru maupun usaha siswa.



